5W+1H Menjadi Au Pair di Jerman

Tinggal gratis di Jerman sambil belajar bahasa dan budaya, bahkan dapat uang saku yang cukup untuk jalan-jalan keliling Eropa? Sikat!

Tahun ini saya memutuskan mengambil satu langkah yang cukup besar dalam hidup saya: tinggal di Eropa selama satu tahun sebelum saya mengambil S2 tahun depan (yang juga akan di Eropa) sebagai seorang au pair.

Selama masa persiapan keberangkatan, tentu banyak yang bertanya apa yang saya lakukan di sana nanti. Kuliah? Nggak, belum. Kerja? Bukan. Lalu apa? Au pair.

Dan kelanjutan dari percakapan itu hanya ada tiga pilihan:

A. Wah, seru banget! Manfaatin masa muda semaksimal mungkin ya!

B. Hah, apaan tuh au pair?

C. Au pair? Bukannya itu jadi pembantu/nanny/babby sitter ya?

Respon pertama biasanya saya dapatkan dari orang yang (1) pernah au pair, atau (2) punya kenalan au pair.

Saya menulis ini untuk mereka yang merespon dengan reaksi B dan C. Semoga mencerahkan ya! 🙂

WHAT AND WHO

Au pair adalah sebuah program khusus yang dirancang untuk anak muda berusia 18-30 tahun. Program ini pertama dicetuskan di Eropa setelah Perang Dunia II (untuk sejarah lengkapnya, bisa lihat di Wikipedia).

Di situs aupair-world.net, penjelasannya sebagai berikut:

An au pair stay offers young persons from all over the world the opportunity to live abroad for a defined period of time. The main objective behind an au pair stay is a mutual cultural exchange which benefits both parties: The au pair brings a new culture, a foreign language and a whiff of the big wide world into the host family. And whilst in the host country, the au pair can learn the official language of the host country and gain valuable experience with the help of their host families and by attending a language course

Sementara dalam penjelasan mengenai Visa Au Pair di Kedutaan Jerman, disebutkan sebagai berikut:

Tinggal sebagai Au-pair memberikan kesempatan bagi para remaja untuk memperdalam kemampuan berbahasa mereka dan mengenal kebudayaan asing di luar negeri. Au-pair juga sebagai komunikasi internasional. Para Au-pair akan tinggal di keluarga pengundang. Hubungan antara Au-pair dan keluarga pengundang adalah hubungan saling menguntungkan. Au-pair membantu mengasuh anak dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga keluarga pengundang sehari-hari. Sebagai timbal baliknya keluarga pengundang menyediakan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari dan asuransi kesehatan, memberikan uang saku dan memberikan kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Jerman. Pada saat memasuki Jerman, Au-pair harus berusia minimal 18 tahun. Batasan usia pada saat pengajuan permohonan visanya adalah 26 tahun.

Lalu, kesimpulannya di sana saya ngapain?

1. Belajar bahasa. Ini yang paling penting dan memang tujuan utama dari program Au pair. Program ini dirancang bagi semua anak muda di seluruh dunia, bukan cuma dari negara-negara miskin atau dunia ketiga. Program au pair malah lebih banyak diikuti oleh anak-anak muda Eropa sendiri. Kenapa? Karena mereka memang dibiasakan untuk belajar minimal dua bahasa selain bahasa ibunya. Negara di Eropa sangat berdekatan satu sama lain, namun bahasa satu negara dengan negara lain sangat berbeda jauh. DAN, mereka nggak suka jadi penutur bahasa Inggris. Makanya, anak-anak muda di sana diharuskan belajar bahasa lain, entah sebagai pencapaian diri ataupun meningkatkan daya jual di bursa kerja. Dan menjadi au pair adalah pilihan yang sangat tepat, karena kapan lagi bisa belajar bahasa dan mempraktekannya langsung dengan para penutur asli setiap hari, secara gratis? Au pair wajib memiliki pengetahuan dasar bahasa setempat, jadi saya harus menyiapkan sertifikat bahasa Jerman dulu sebelum mengajukan visa au pair. Nanti, saya harus mendaftar di sekolah bahasa di kota tempat saya tinggal untuk meneruskan kursus bahasa Jerman saya. Proses belajar tentu lebih cepat dan biayanya jauh lebih murah dibanding belajar di Indonesia.

2. Belajar budaya. Selama menjadi au pair, saya akan tinggal bersama keluarga angkat yang merupakan warga negara Jerman. Tentu saya akan belajar banyak mengenai budaya dan kehidupan orang Jerman secara langsung, tahu bagaimana karakter masyarakat Jerman, norma-norma yang mereka anut, pola pikir mereka, sikap terhadap sesuatu, sampai cara makan mereka, gaya liburan mereka, dan masih banyak lagi. Seorang au pair akan dianggap sebagai bagian dari keluarga, seperti anak tertua di keluarga tersebut. Jadi, saya akan belajar banyak banget mengenai cara hidup keluarga Jerman.

Dua hal itu akan menjadi kegiatan utama saya selama tinggal di Jerman sebagai au pair.

Lalu, bagaimana dengan biayanya? Saya hampir tak akan mengeluarkan biaya sepeser pun setelah sampai di Jerman.

Saya tinggal bersama keluarga angkat, otomatis saya tak perlu membayar biaya sewa tempat tinggal dan makan. Biaya kursus bahasa Jerman dan transportasi dalam kota juga ditanggung oleh keluarga angkat. Selain itu, saya juga mendapat uang saku bulanan (280 euro per bulan).

Saya hanya mengeluarkan biaya selama masih di Indonesia, seperti biaya kursus bahasa Jerman (1,3 juta per satu level dan perlu minimal 2 level untuk bisa mengikuti ujian sertifikasi), biaya ujian sertifikasi bahasa Jerman di Goethe Institut (70 euro), biaya pengajuan visa (60 euro), dan tiket pesawat. Tiket pesawat saya pun sebagian dibayarin oleh keluarga angkat (karena saya bilang saya hanya punya budget 500 dolar AS, sementara harga tiket 640 dolar AS, dan mereka dengan senang hati membayar sisanya).

Keluarga angkat ini biasanya merupakan keluarga muda yang memiliki anak kecil. Keluarga angkat saya punya dua anak perempuan kembar berusia 8 tahun yang sangat menggemaskan (saya sudah beberapa kali mengobrol melalui Skype). Nah, sebagai timbal balik atas segala kebaikan mereka, saya bertugas untuk mengawasi anak-anak itu selama orangtuanya kerja. Mungkin ini yang bikin beberapa orang yang hanya tahu selewat menganggap au pair sebagai nanny atau babby sitter. Padahal nggak, beda. Biar saya luruskan.

Au pair itu dianggap sebagai kakak tertua, yang menjaga dan memantau adik-adiknya selama orangtuanya nggak ada di rumah. Ya, kurang lebih tugasnya ya kayak jagain dan main sama adik. Contoh sederhananya gini deh: au pair bukan bertugas membereskan mainan anak-anak itu, tapi mengajari mereka membereskan mainannya sendiri.

Selain itu, au pair juga bakal membantu pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah seperti beresin meja makan sehabis makan, bantuin lipetin pakaian, nyapu, dan sebagainya. Kayak pembantu? Nggak sih, karena di rumah sendiri pun sebagai kakak tertua saya bertugas untuk bantuin mama saya ngerjain kerjaan domestik. Dan sebagai orang yang numpang, wajar nggak sih bantuin hal-hal kecil kayak gitu? Lagipula, anak-anak kandung mereka juga nggak dimanjain. Mereka juga harus bantuin ngerjain ini-itu secara mandiri, misalnya beresin tempat tidur mereka.

Sebagai catatan, tugas-tugas au pair terbatas pada pekerjaan ringan dan ‘jam kerja’-nya maksimal 30 jam per minggu (termasuk main sama anak-anak). Jadi, dalam sehari kita hanya boleh ‘bekerja’ selama 5-6 jam, dan akhir pekan bebas tugas. Kita nggak boleh melakukan pekerjaan berat seperti membersihkan seluruh rumah, atau memasak tiga kali sehari untuk sekeluarga, mencuci mobil, membersihkan kamar mandi, dan pekerjaan-pekerjaan yang tergolong berat. Keluarga angkat biasanya punya petugas bersih-bersih yang datang seminggu satu atau dua kali untuk menyelesaikan itu semua.

Oia, selama periode satu tahun itu juga saya akan mendapat jatah liburan selama minimal empat minggu. Jadi, kegiatan utama lain yang saya lakukan adalah:

3. Traveling! Saya sudah punya jadwal liburan sampai bulan Maret. Yeay! Musim panas ini saya akan liburan selama tiga minggu, musim gugur selama dua minggu, dan pergantian musim dingin menuju musim semi selama dua minggu. Ini belum termasuk liburan bulan Mei yang biasanya juga berlangsung selama 1-2 minggu. Ini semua di luar akhir pekan. Jadi, saya memang sudah merancang rencana keliling Eropa untuk beberapa bulan mendatang. Doakan lancar! 🙂

Oia, menjadi au pair juga bisa jadi batu loncatan untuk kuliah di Jerman, karena beberapa keluarga angkat bersedia untuk membantu membayar uang jaminan kuliah mahasiswa asing (sekitar 8.900 euro). Saya aja udah ditawarin untuk kuliah tahun depan, tapi udah janji sama mama mau pulang dulu sih hehe.

WHEN AND WHERE

Saya akan menjadi au pair di Jerman, tepatnya di kota Hamburg (tempat lahirnya The Beatles, wohoo!) mulai tanggal 18 Juni mendatang. Saya akan tinggal di sana selama satu tahun, karena visa au pair di Jerman bagi warga Indonesia memang hanya berlaku maksimal satu tahun.

WHY

I just want to seize my life! Ini adalah kesempatan besar untuk merasakan kehidupan di negara dunia pertama secara langsung dan bisa menaklukan Eropa (setidaknya separuh) di usia saya yang belum menginjak 23 ini.

This is a lifetime experience. Dan ini cuma bisa saya jalankan saat masih muda. Selain itu, saya juga bisa tetap meneruskan pekerjaan di Russia Beyond The Headlines karena ini tak akan mengganggu dan atasan saya di Moskow yang super baik mendukung kepindahan saya ini. Sounds perfect, isn’t it?

HOW

Saya akan menjelaskannya secara singkat dan kamu tentu bisa cari sumber-sumber lain untuk lebih detailnya (bisa kontak saya juga, tentu saja!). Berikut langkah-langkah yang saya tempuh untuk mejadi au pair.

1. Kursus bahasa Jerman

Saya mengambil kursus bahasa Jerman di LBI Universitas Indonesia. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya memilih les di LBI bukan Goethe Institut, dua di antaranya ialah lokasi yang lebih dekat dari rumah dan harga yang lebih terjangkau. Les bahasa Jerman terdiri dari level-level seperti A1.1, A.1.2, A.1.3, A.2.1, dan seterusnya. Saya membutuhkan sertifikat bahasa level A1 untuk mengajukan visa tinggal di Jerman. Saya mengambil kursus level A1.1 dan A.1.2, masing-masing sekitar 3,5 bulan dengan biaya 1,3 juta rupiah per level. Karena keterbatasan waktu, saya memutuskan untuk tidak mengambil level A.1.3 dan mempelajari sisa materi ujian A1 sendiri.

2. Sertifikat A1 Goethe Institut

Setelah menyelesaikan materi untuk level A1, saya mengambil ujian sertifikasi di Goethe Institut. Biayanya 70 euro (dibayarkan dalam rupiah), diselenggarakan satu bulan sekali. Untuk jadwal, lihat langsung di situs Goethe Institut Jakarta ya. Ujian terdiri dari mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Gampang kok, asal belajar. Tapi untuk sesi berbicara, kita akan diuji secara berkelompok, jadi keberuntungan (baca: rekan sekelompok) juga sangat menentukan. Hasil ujian bisa diambil dua hari kemudian dan kita perlu minta legalisir sebanyak 3 lembar untuk keperluan pengajuan visa. Biaya legalisir Rp 40.000 per lembar.

3. Dokumen dari keluarga angkat

Kamu harus mencari keluarga angkat secepat mungkin, karena pencariannya nggak mudah. Pilihannya bisa pakai agen atau mencari sendiri. Kalau pakai agen tentu harus bayar lagi, sedangkan kalau mencari sendiri tentu harus punya usaha lebih. Saya memilih mencari sendiri melalui situs aupair-world.net, situs yang paling reliabel untuk mencari keluarga angkat secara online. Saya membuat akun sejak Januari, namun baru benar-benar mendapat keluarga angkat yang cocok pada bulan April. Sebenarnya sejak Januari saya sudah dapat keluarga angkat, tapi karena satu dan lain hal saya beberapa kali berubah pikiran dan mengubah calon keluarga angkat, sampai akhirnya memutuskan untuk memilih keluarga angkat super baik yang tinggal di Hamburg ini. (FYI, saya melepaskan kesempatan tinggal di keluarga angkat di Berlin padahal sudah kirim kontrak juga, maafkan aku!).

Setelah menemukan keluarga angkat yang cocok, mereka harus mengirim kontrak asli yang sudah ditandatangani melalui pos, bersama dengan asuransi kesehatan kita, surat kependudukan, dan beberapa dokumen pelengkap lain. Pengiriman dokumen dari Jerman ke Indonesia memakan waktu sepuluh hari menggunakan layanan Eil International.

4. Mengajukan visa

Setelah semua dokumen sudah di tangan, buat perjanjian dengan Kedutaan Jerman untuk mengajukan visa. Saya membuat perjanjian sejak keluarga angkat saya mengirim kontrak, karena jadwal kedutaan cukup padat dan kita nggak bisa tiba-tiba bikin janji untuk besok atau lusa.

Semua dokumen yang dibutuhkan untuk membuat visa tercantum di situs kedutaan Jerman. Nggak perlu siapin dokumen aneh-aneh, ikutin aja yang ada di situs kedutaan.

Saat hari-H, kamu bakal diwawancara oleh orang Jerman mengenai rencana kamu ini dalam bahasa Jerman. Be well prepared! Karena kabarnya proses wawancara ini yang paling menentukan apakah pengajuan visa kamu ditolak atau diterima. Pertanyaan yang diajukan cukup banyak, seperti alasan menjadi au pair, mengapa memilih Jerman sebagai negara tujuan, apa rencana setelah au pair (tekankan bahwa kamu akan pulang ke Indonesia!), apa saja tugas yang dikerjakan sebagai au pair nanti, apa hubungan au pair dengan karir masa depan kamu, dan seterusnya. Wawancara cukup menegangkan bagi saya karena bahasa Jerman saya masih sangat terbatas dan saya agak gugup. Tapi untungnya semua berjalan lancar.

Proses penerbitan visa kabarnya memakan waktu 3-8 minggu. Tapi, visa saja selesai hanya dalam waktu 10 hari, thanks God!

5. Membeli tiket pesawat

Lakukan riset yang baik mengenai harga tiket pesawat. Saya sendiri memutuskan untuk menggunakan Emirates karena jadwalnya cocok dan durasi perjalanan tidak terlalu lama. Sejauh pengamatan saya, Garuda masih jadi maskapai termurah untuk terbang ke Jerman.

6. Persiapan keberangkatan.

Packing, farewell, banyak-banyak browsing pengalaman orang asing yang tinggal di kota kamu, dan banyak-banyak berdoa!

Kurang lebih seperti itu penjelasan mengenai 5W+1H Become an Au Pair dari saya. Semoga mencerahkan!

Warm hug,

S

2 thoughts on “5W+1H Menjadi Au Pair di Jerman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s