Keliling Eropa Tanpa Keluar Biaya? Bisa!

Seperti yang saya tulis dalam artikel sebelumnya, saya berhasil mencorat-coret hampir semua kota Eropa yang ada di bucket list saya dalam kurun waktu satu tahun. Banyak yang sering bertanya, “Gimana caranya sih kok bisa jalan-jalan terus?”, sampai yang nyinyir nanya “Duit dari mana sih?” juga ada 🙂

Dalam pembahasan kali ini, saya hendak mematahkan asumsi bahwa keliling Eropa itu mahal. Kenyataannya, saya sih merasa jalan-jalan di negeri sendiri lebih mahal. Kenapa? Karena di Eropa sistem transportasi umumnya sangat baik dan terjangkau, jadi nggak pernah tuh ada cerita saya harus nguras kocek untuk sewa kendaraan pribadi atau tarik urat lawan calo seperti kalau saya jalan-jalan ke pelosok Indonesia.

Gaya traveling saya tentu beda dengan acara jalan-jalan mewah ala Syahrini. Dengan modal ransel di pundak, keberanian, dan uang secukupnya, saya berpetualang tanpa kenal lelah.

Oke, prolog nggak perlu panjang-panjang. Mari kita ulik satu-persatu tips dan trik keliling Eropa ‘tanpa keluar biaya’ ala saya. Untuk memudahkan, saya akan buat dalam bentuk tanya-jawab.

Berapa lama total waktu yang dibutuhkan untuk menjelajahi Eropa Barat?

Saya menghabiskan kurang-lebih 4 bulan untuk menyambangi kota-kota di luar Jerman. Sementara bagi kota-kota di dalam Jerman, saya biasanya pergi di akhir pekan atau hanya melakukan one-day trip. Durasi kunjungan saya ke tiap kota berkisar antara 2-5 hari. (Lihat daftar kota yang saya kunjungi).

Berapa total biaya yang saya dihabiskan?

Sejujurnya saya nggak pernah menghitung dengan detil jumlah pengeluaran saya selama jalan-jalan. Tapi yang jelas saya hanya mengandalkan uang saku saya dari keluarga angkat (260-280 per bulan) dengan tambahan sedikit dari tabungan pribadi. Tebak-tebakan asal mungkin saya menghabiskan sekitar 2.000 euro. Tentu itu di luar biaya dari dan menuju Jerman serta visa, karena saya punya izin tinggal.

Kapan waktu yang tepat untuk liburan di Eropa?

Tergantung lokasi.

Secara umum saya nggak merekomendasikan jalan-jalan di musim panas, karena biasanya semua kota penuh turis dan berbagai biaya melonjak akibat high season. Kalau terlalu ramai kan kita jadi nggak bisa menikmati kotanya (hal ini yang membuat saya nggak suka sama Wina).

Di musim dingin, cuaca bisa sangat menyebalkan dan hari sangat pendek (di Jerman biasanya daylight hanya dari jam 8 sampai jam 4 sore). Jadi, nggak banyak yang bisa dinikmati.

Menurut saya waktu paling asyik jalan-jalan itu di musim peralihan, gugur dan semi. Biasanya harga tiket dan penginapan lebih murah. Selain itu, nggak terlalu ramai juga karena bukan musim liburan.

Kalau mau ke daerah Eropa Selatan, sebaiknya jangan musim panas karena suhu udara bisa mencapai 45 derajat Celcius. Saat saya ke Italia pada bulan Agustus, saya sampai ikut-ikutan menjalankan ritual riposo (siesta) alias tidur siang dari jam 12 sampai jam 3 atau 4 sore. Selain karena memang panas banget, nggak nyaman ngapa-ngapain, beberapa toko, museum, bahkan gereja juga tutup pada jam itu. Jadi, yang berniat ke Italia, Spanyol, atau Yunani, mending pergi di musim gugur, musim dingin, atau musim semi. Tapi kalau datang di musim dingin, jangan berharap bisa melihat salju ya di sana, karena langka banget mereka dihujani salju. Kalau mau main salju, ke daerah pegunungan saja, Swiss misalnya.

Untuk daerah Skandinavia alias Eropa Utara, musim semi dan musim panas mungkin lebih cocok, karena suhu udara cukup bersahabat. Saya ke sana pada akhir musim semi dan kegirangan karena di sana sepanjang waktu berlimpah matahari (padahal di Jerman masih hujan setiap hari).

Bagaimana mencari tiket perjalanan?

Beli online.

Untuk tiket pesawat, saya selalu menggunakan RyanAir, maskapai yang murahnya kadang keterlaluan. Walau murah, tapi aman dan tepat waktu kok. Cuma ya harus hati-hati, karena mereka banyak pasang jebakan betmen. Misalnya, kalau mau dikirimi SMS sebelum penerbangan, kita harus bayar sekitar 2-3 euro (saya lupa tepatnya, nggak pernah minta SMS juga sih hahaha). Lalu, kita harus check-in sebelum datang ke bandara dan print boarding pass sendiri. Kalau sampai nggak bawa boarding pass, bisa minta petugas RyanAir mencetaknya untuk kita… tapi bayar 45 euro. Hehehe. Saya sih nggak masalah ngeprint sendiri. Cuma kadang kan saya berpergian selama 2-3 minggu, dan check in RyanAir baru dibuka satu minggu sebelum penerbangan. Alhasil, seringkali saya harus mencari tempat print saat liburan atau memohon belas kasihan host Couchsurfing saya untuk ngeprint-in boarding pass saya.

Sementara moda transportasi lainnya (kereta, bus, atau BlaBlaCar), bisa dicari di situs busliniensuche.de. Itu situsnya bahasa Jerman, tapi kayaknya ada opsi bahasa Inggrisnya deh. Di situ, bisa bandingin jadwal, harga, dan durasi perjalanan berbagai moda transportasi di Eropa. Saya biasa pilih yang paling murah.

Oia, biasanya untuk membeli tiket secara online, kita butuh kartu kredit.

Berapa harga tiket rata-rata?

Untuk bus, berkisar antara 1,50 euro sampai 30 euro. Pesawat sekitar 7-50 euro (yes, tiket pesawat saya dari Stockholm ke Kopenhagen hanya 7 euro, Lisbon-Porto 10 euro, Duesseldorf-Barcelona 20 euro, dan seterusnya). Sementara kereta cenderung lebih mahal, di atas 20 euro. Saya biasanya menggunakan kereta kalau emang terpaksa banget.

Tapi kalau jalan-jalan beramai-ramai di Jerman, ada tiket grup kalau dibagi lima harganya hanya 8-15 euro per orang untuk perjalanan satu hari. Kalau mau one-day trip lumayan, bisa dipakai pulang-pergi.

Bagaimana soal akomodasi?

Saya menggunakan Couchsurfing, kadang-kadang menyewa hostel. Dengan Couchsurfing, saya bisa menumpang menginap di rumah orang lokal tanpa perlu membayar. Biasanya pengguna Couchsurfing menyediakan sofa atau tempat tidur lipat untuk surfer. Kalau beruntung ada juga host yang punya kamar lebih untuk dipinjamkan. Aman nggak? Aman-aman aja sih. Saya ada pengalaman kurang enak, tapi akan dibahas di artikel terpisah. Tapi kebanyakan super menyenangkan kok! Biasanya host yang menampung kita bersedia memberi rekomendasi tempat-tempat oke untuk dikunjungi. Host saya kebanyakan dengan senang hati menemani keliling kota, sharing makanan dan minuman, serta berbagi pengalaman seru. Nambah teman juga kan! Kadang beberapa host saya juga malah jadi traveling bareng ke kota lain sama saya. Sebagai balas budi, biasanya saya memasak makan malam untuk host yang saya tumpangi. Pada doyan lho masakan Indonesia, walau cuma pakai bumbu instan yang saya beli dari Toko Asia.

Kalau pilihan itu dinilai terlalu ekstrem, bisa sewa hostel. Saya biasa pilih kamar dorm yang berisi 4-12 orang campur cewek-cowok. Cuek aja sih. Hostelnya bisa dicari di HostelWorld atau HostelBookers. Range harga sekitar 7-20 euro per malam per kasur. Enaknya di hostel bisa kenalan sama traveler lain dan jadinya bisa traveling bareng. Nambah teman lagi kan 🙂

Kalau mau sewa kamar sendiri juga bisa. Tapi harga beda jauh tentunya. Misalnya hotel dengan kamar privat termurah di Stockholm itu harganya 85 euro per malam.

Kalau makanan?

Opsi termurah: sarapan dan makan siang beli di supermarket, bikin sandwich sendiri misalnya. Tinggal beli roti (bagel dan sebagainya) plus isi. Bisa beli nutella atau selai botol kecil (tapi ingat, nggak bisa dibawa ke pesawat). Harga roti kurang lebih sama sih di seluruh Eropa, sekitar 0,20-0,50 euro per buah. Selai dan nutella 2-3 euro. Bisa juga beli ham, salami, keju oles, atau salad oles yang harganya berkisar antara 1-5 euro. Saya juga selalu makan buah, biasanya pisang, beri, ceri, atau kiwi. Tambah susu atau yoghurt biar makin sehat. Saya lumayan sering sarapan dengan gaya semacam ini, makanya tiap traveling selalu bawa pisau plastik dan sendok plastik ke mana-mana.

Untuk makan malam bisa masak sendiri. Kadang saya dimasakin juga sama host Couchsurfing saya (sarapan atau makan siang juga sering ditraktir sih hahahaha). Murah kok kalau beli pasta dan sayur-sayuran. Ayam harganya 2-3 euro sekilo. Paling gampang bikin ayam panggang, tinggal potong-potong ayamnya, cuci sampai bersih, dilumuri garam, merica, dan minyak zaitun, masukin oven 30-45 menit, jadi deh. Saya juga sering bawa bumbu instan masakan Indonesia plus santan bubuk.

Nah, tapi nggak perlu tiap hari makan kayak gini juga. Trik ini berguna diterapkan di Eropa Utara, karena makanan jadi di sana harganya mahal banget dan rasanya juga hambar, gitu-gitu doang. Kalau di Eropa Selatan, saya nggak bisa berenti wisata kuliner! Mulai dari pizza, tapas, gelato, souvlaki, astaga…. enak-enak semua dan harganya murah meriah. Seloyang pizza margarita standar di Napoli (kota asal-usul pizza) hanya 3 euro saja. Gelato 1 euro per scope. Souvlaki hanya 2-3 euro. Rasanya mantap banget. Memang beda sih ya kalau beli makanan langsung di tempat aslinya 🙂

Oh iya, tenang aja opsi makan halal banyak kok, karena pedagang kebab sejatinya tersebar di seluruh Eropa raya. Kamu juga bisa pilih opsi ikan atau vegetarian kalau mau aman.

Terus kalau masuk objek wisata?

Nah, ini nih nggak bisa diakalin. Emang mahal sih. Tiket masuk museum biasanya sekitar 20 euro. Kalau nggak penting-penting banget, gausahlah masuk museum. Isinya gitu-gitu aja kok. Selain itu biasanya perlu waktu berjam-jam untuk menjelajahi seluruh isi museum. Saya cuma dua kali ke museum di Eropa, Museum Louvre Paris dan Museum Hermitage St. Petersburg. Pernah sih masuk museum kecil-kecil lain, tapi ya gitu-gitu aja.

Tenang aja, banyak kok tempat gratisan yang bisa dinikmati sepuasnya ketika kamu di Eropa. Landmark-landmark kota biasanya bisa dilihat dari luar tanpa perlu bayar, begitu pula taman dan gereja-gereja. Seperti di Wina, saya nggak masuk ke Istana Schoenbrunn, tapi berkeliling puas banget di tamannya yang super cantik. Di Colosseum juga saya nggak masuk, cuma di luarnya aja karena ramai banget. Nah, selain buang-buang uang, buang-buang waktu juga ngantri berjam-jam untuk dapat tiket masuk. Lebih baik waktunya digunakan untuk menikmati kota dan menemukan tempat-tempat cantik tersembunyi yang bisa dinikmati tanpa perlu menguras kantong (biasanya saya dikasih rekomendasi oleh host Couchsurfing saya).

Oia, yang masih punya kartu pelajar, bawa aja! Apalagi kalau ISIC. Karena, sebagian tempat wisata memberlakukan diskon khusus bahkan menggratiskan biaya masuk bagi pelajar. Di Acropolis misalnya, kamu bisa masuk gratis kalau punya kartu pelajar Uni Eropa.

Lalu, biasanya keluar uang untuk apa lagi?

Transport dalam kota. Beli tiket harian atau 3-harian, biasa lebih murah. Sebenarnya sebagian besar pusat kota-kota Eropa bisa dijelajahi dengan jalan kaki. Saya bisa jalan kali 10 jam sehari kalau lagi traveling, saking keasikannya muter-muter 😉 Kadang saya juga dikasih pinjam tiket transport oleh host Couchsurfing saya. Pernah juga salah satu host saya di sampai bela-belain mencarikan tiket bekas buat saya yang belum habis masa berlakunya, jadi saya nggak perlu beli tiket baru. Kalau yang bandel, bisa jadi penumpang gelap. Tapi hati-hati, jika tertangkap petugas kamu bisa didenda puluhan sampai ratusan euro.

Minum dan nongkrong.

Saat butuh internet (plus pengen pipis), saya biasanya mencari McDonald atau Starbucks terdekat. Yap, di Eropa pipis bayar. Lumayan pula, 0,50 euro. Makanya saya biasanya sekalian ke Sbux aja, karena dengan 2-3 euro bisa dapat internet, toilet, dan kopi 🙂 Eh tapi internetnya bukan saya pakai buat main socmed, melainkan untuk cari alamat atau buka peta atau menghubungi orang, karena saya nggak menyalakan roaming kalau sedang di luar negeri.

Selain itu, pengeluaran saya yang paling boros dan sulit ditahan adalah minum. Bukan air putih, karena air putih bisa ambil gratis di keran di mana saja asal bawa botol minum. Wine dan bir memang godaan setan yang sulit saya bendung karena pada dasarnya saya emang doyan banget. Harganya murah sih, kecuali di Skandinavia. Tapi kalau nongrkong di bar biasanya lumayan menguras kocek, karena satu gelas berkisar antara 3-10 euro. Makanya, saya nggak pernah nolak sih kalo dibeliin minum sama orang 😛

Pengeluaran untuk party juga sama seperti nongkrong. Banyak klub yang masuknya gratis, jadi bisa seru-seruan tanpa keluar uang. Harga minuman di dalam klub tentu lebih mahal dari di luar. Jadi kalau mau ngirit, minumnya sebelum masuk klub aja 😉 Cuma jangan terlalu sering lah party kalau lagi traveling, karena kalau baru tidur pagi kan kita malah jadi nggak bisa jalan-jalan dengan puas. Awal-awal traveling saya kadang hanya istirahat 3 jam sehari karena pagi-sore keliling kota, malamnya party. Hasilnya, capek luar biasa. Lama-lama saya mengubah kebiasaan, hanya party kalau ada waktu sisa atau kalau di Hamburg dan Hannover saja (tempat tinggal saya).

Kota mana yang paling menarik untuk dikunjungi? Kota mana yang paling mahal dan membosankan? Simak di artikel saya selanjutnya 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s