Kalau Motor Listrik Kehabisan Baterai di Tengah Hutan: Bagan, Myanmar

19535451_326300641157928_8526193068259409920_nJaman sekarang apa-apa serba elektrik. Pamor kendaraan elektrik pun makin meroket. Saya mencoba motor elektrik pertama kali di Bagan, Myanmar.

Kala itu saya bersama satu orang teman baru dari hostel memutuskan untuk menyewa motor bersama. Saya nggak mau nyetir, haha. Lagian kalau berbagi, biayanya jadi lebih murah. Harga sewa sekitar 15,000 uang Myanmar, plus lucunya gratis 10 potong laundry. Sip.

Kami dapat motor pagi-pagi, berangkat bersama dua motor lain, dua-duanya turis juga dari Belanda. Rasanya naik e-bike sih sama aja kayak naik motor biasa. Bedanya, e-bike sama sekali nggak mengeluarkan suara. Bahkan lebih sunyi dibanding sepeda, karena sepeda aja ada suara gowes dan roda berputar. Selain itu, e-bike hanya bisa dipacu maksimal 50 kilometer per jam. Di layar motor, ada penanda kecepatan dan sisa baterai.

Sebagai petualang, bawa e-bike di jalan raya rasanya kurang gress. Kami pun berbelok ke arah hutan. Off-road. Yay. Secara teknis nggak ada jalan beton, hanya tanah berbatu-batu. Kami mengikuti peta mengunjungi candi-candi penting satu-persatu. Jumlah candi di Bagan ada sekitar 4,000. Jadi nggak mungkin kami masuki satu-satu. Kami berhenti di beberapa candi untuk masuk dan memanjat, melihat pemandangan dari kejauhan.

Bagan
Penampakan Bagan

Saat sedang asyik-asyiknya berkendara di antara pepohonan rindang dan pasir tanah, cess. Tiba-tiba motor kami berhenti. Kami mencoba menyalakannya kembali tanpa hasil. Oke.

Setelah berpikir matang-matang, kami sadar bahwa motornya kehabisan baterai. Padahal pihak penyewa bilang kalau kami bisa menggunakan e-bike tersebut sekitar 8 jam. Ini belum sampai 3 jam sudah mogok. Di tengah hutan pula.

Kami diberi nomor kontak pemilik motor dan diminta untuk menghubungi kalau ada apa-apa. Well, tak ada satupun dari kami yang punya internet atau nomor lokal untuk menelepon. Alhasil, kami pun mendorong e-bike mogok sampai ke warung tenda terdekat dan minta pemilik warung untuk menelepon pemilik motor. Untungnya pemilik warung berbaik hati mau menolong kami. Pemilik motor bilang dia akan datang segera. Masalahnya, susah juga memberi petunjuk lokasi kami karena di area kota tua Bagan nggak ada nama jalan. Namanya juga di tengah hutan! Tapi ya kami percaya aja kalau dia bakal datang.

Sambil menunggu, kami minum dan ngemil-ngemil. Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Hampir tiga jam akhirnya pemilik motor datang bersama temannya. Mereka membawa dua motor. Ternyata, dia bukan bawa baterai pengganti, melainkan bawa motor pengganti. Lah, kami bingung juga jadinya tertawa-tawa. Motor mogok itu kemudian dibawa kembali ke peradaban. Kami pun melanjutkan perjalanan. Untungnya baterai motor yang ini sepertinya sudah benar-benar terisi penuh.

Kami sempat makan siang di warung makan lain. Saya rekomendasikan coba salad teh, yakni salad yang terbuat dari daun teh. Seperi pecel kali ya, karena ada kacang dan sayur-sayurannya juga. Enak! Tapi porsinya kecil, jadi hitungannya camilan ya bukan makan besar.

Candi Kelelawar

Dari rekomendasi rekan di hostel, kami mengunjungi sebuah candi yang terletak agak jauh. Ini candi terbesar yang kami lihat di Bagan. Hampir tidak ada pengunjung, hanya ada satu orang penjual lukisan yang duduk-duduk di dekat candi. Ia menawarkan kami untuk masuk. Kami awalnya bingung, bagaimana cara masuknya? Ternyata ada pintu super kecil, sekitar 50×80 centimeter untuk memasuki candi. Saking kecilnya, kami harus agak merangkak. Gelap. Kotor. Wow, adventure kembali dimulai. Kami harus merayap dan meraba-raba. Untungnya pemandu kami punya lampu senter. Kami juga harus memanjat naik-turun di beberapa tempat. Kabarnya, di tengah candi ada sarang kelelawar! Wow. Awalnya kami semangat, tapi makin jauh main terasa gelap dan oksigen makin sedikit. Salah satu dari kami memutuskan bahwa petualangan cukup sampai di sini dan kami pun kembali ke luar. Nggak sempat lihat kelelawar sih, tapi saya khawatir juga kalau sampai ujung dan tenyata ada ribuan kelelawar.

Ketinggalan Kapal

Esoknya, saya berjalan-jalan bersama seorang teman lain dari hostel, seorang perempuan Belanda. Kami pergi ke satu candi tertinggi yang merupakan tempat terbaik untuk memandangi matahari terbenam. Kita harus berpakaian menutup lutut. Tapi rencananya saya hanya sebentar di sana, karena saya sudah janjian dengan Jasper bahwa kita akan ikut rombongan kapal untuk melihat matahari terbenam dari sungai.

Akan tetapi, pemandangan dari candi cantik sekali. Saya keasyikan dan ketinggalan rombongan. Huft. Tapi nggak apa-apa, saya rasa pemandangannya lebih bagus dari atas candi, hehe.

19622819_451115861933099_5436992636080619520_n

Lumayan beruntung teman-teman dari hostel benar-benar seru. Memang hostel yang saya tempati salah satu yang paling seru di Bagan. Simak pengalaman saya menginap di hostel tersebut di sini.