Mendaki Himalaya Tanpa Porter dan Pemandu: Bisa Banget

26867830_156618175124092_4161551545768345600_n

Hal yang membatasi kita dengan mimpi-mimpi kita cuma diri kita sendiri. Itu salah satu prinsip yang membuat saya terus-terusan menantang diri saya untuk mewujudkan angan-angan, termasuk yang kedengarannya gila.

Bengong berujung tiket

Pada suatu sore di kantor (saat itu saya masih kerja kantoran di Jakarta), saya memandangi kemacetan jalan raya dari lantai 19. Maklum, penyakit karena duduk samping jendela: banyak bengong.

Saya sedang mencari destinasi untuk menghabiskan tahun baru. Berhubung kerjaan sudah selesai dan tinggal menunggu respon dari atasan, saya iseng-iseng mencari tiket pesawat. Ya, hobi iseng saya memang agak aneh.

Dengan kecanggihan strategi pencarian tiket, saya menemukan tiket pesawat Jakarta-Kathmandu seharga kurang dari Rp 1,500,000 untuk keberangkatan dua minggu dari hari itu. Wow. Jantung mulai berdegup kencang. Saya lanjut ketik-ketik sedikit, ketemu tiket New Delhi – Jakarta seharga kurang-lebih sama untuk tanggal empat minggu dari hari itu. Sempurna. Dalam hitungan 30 menit, dari iseng-iseng buka mesin pencari, saya berakhir dengan tiket Jakarta-Kathmandu dan New Delhi-Jakarta di tangan.

Masalahnya, saya bahkan nggak ada gambaran apa yang hendak saya lakukan di kedua negara tersebut, Nepal dan India. Tapi hal pertama yang saya lakukan adalah menelepon Mama.

“Ma, aku berangkat ke Nepal ya, pulangnya dari India. Dua minggu lagi,” kata saya saat Mama mengangkat telepon.

Sunyi.

“Ma?”

“Kamu mau ke India?” nada bingung terdengar dari suara perempuan yang melahirkan dan membesarkan saya dengan penuh warna ini.

“Iya. Emang kenapa?”

Jujur, belum pernah Mama saya menyampaikan pertanyaan semacam ini. Pertama kali saya berangkat ke Jerman, suatu sore saya bilang, “Ma, aku berangkat ke Jerman ya bulan depan,” dan jawabannya Cuma, “Oh, mau ngapain? Yaudah ati-ati aja.” Bagian ke Nepal dan India, yang nggak jauh-jauh amat dan anaknya sudah jauh lebih berpengalaman, dipertanyakan.

“Di India bukannya orang-orangnya pada gitu?”

“Gitu gimana?” aku balik bertanya.

“Emang aman pergi ke sana? Kamu pergi sendiri kan?”

“Aman kok. Lagian tiketnya udah dibeli. Yaudah nanti aku kabarin lagi ya.”

Setelah bilang dadah-dadah, telepon pun ditutup.

Mama saya memang sangat mendukung hobi jalan-jalan saya. Di sisi lain, secara umur sudah menengah 20-an, saya tidak lagi minta izin, biasanya hanya kasih notifikasi. Dan beliau nggak pernah bilang jangan.

Saya pun kemudian mengabari teman dekat bahwa saya baru saja beli tiket ke Nepal dan India.

“Eh gue mau ke Nepal dan India nih, dua minggu dari sekarang,”

“Wih, seru. Emang ga perlu visa?”

Ups. Iya juga. Emang ga perlu visa? Kok saya baru kepikiran. Saya pun tertawa sendiri.

“Oh iya,belum ngecek sih, tapi udah beli tiket, hahahahahaha”

Saya pun menyudahi percakapan dan kembali ke laptop. Setelah penelitian lebih lanjut, ternyata saat itu (Januari 2018), saya bisa ambil Visa on Arrival untuk Nepal tapi harus apply visa untuk India. Yes, sometimes I can get that clumsy.

Saya agak panik tapi ternyata apply visa India prosesnya nggak terlalu ribet. Tapi, permohonan visa India saya sempat ditolak karena saya kerja di media. Kalau sekarang sih enak, ke India 2 bulan gratis visa.

Hal lain yang baru saya sadari – setelah beli tiket – adalah bahwa di kedua negara itu sedang musim dingin. Bodohnya saya berasumsi mereka nggak punya musim dingin. Walau nggak ekstrem, tetap saja: dingin.

Singkat cerita, malamnya saya mulai menyusun rencana liburan dadakan tersebut.

Persiapan

Destinasi utama di Nepal adalah pegunungan Himalaya. Rute yang paling populer kita bisa pilih mendaki Pegunungan Annapurna atau Gunung Everest. Untuk Everest, tingkat kesulitannya ialah 5 dari 5. Jadi, sepertinya bukan pilihan yang tepat buat saya yang hanya punya waktu 2 minggu untuk mempersiapkan diri. Musim dingin pula. Selain itu, untuk Everest Base Camp saja, yang terletak di ketinggian 5,364 meter, butuh 3 minggu minimal. Kalau sampai puncak Everest, kita harus menyisihkan waktu setidaknya 3 bulan dengan budget ribuan dolar karena biaya izinnya mahal.

Kebanyakan first timer memilih Annapura. Ada banyak trek yang bisa dilakukan, yang paling umum ialah Poon Hill (3,210 meter di atas permukaan laut), Annapurna Base Camp (4,130 mdpl) dan Annapurna Circuit (5,416 mdpl). Tingkat kesulitannya antara 1 sampai 3 dari lima. Hal yang menentukan hanya waktu yang kita punya. Berhubung saya tidak mau terburu-buru dan ingin menjelajah kota-kota di Nepal juga, saya memilih trek Poon Hill – paling pendek dan rendah. Untuk menyelesaikan Poon Hill, biasanya pendaki menghabiskan waktu 4-5 hari. Memang sih disebutnya bukit, tapi jangan salah, level ketinggiannya hampir setara Gunung Semeru. Meski demikian, tingkat kesulitannya 1, alias paling gampang.

Saya belum pernah naik gunung sebelumnya. Paling Tangkuban Perahu, Ijen dan Bromo. Tapi hitungannya kan bukan naik gunung beneran ya. Pas naik Tangkuban Perahu aja saya pakai summer dress dan sendal jepit.

Sebenarnya kedengaran nekad juga mendaki Himalaya dengan pengalaman nol. Tapi setelah riset baik-baik, tanya teman dan temannya teman yang pernah ke Himalaya, semua bilang bisa banget kok.

Setelah meyakinkan diri, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan perangkat pendakian dan kebugaran tubuh. Beruntungnya, seorang teman baik bersedia menemani saya mendaki Gunung Gede dan membeli perlengkapan yang saya butuhkan di Decathlon Alam Sutera.

Barang yang saya beli antara lain sepatu hiking musim dingin yang tahan air dan salju, sweater termal, jas hujan, celana mendaki yang gampang kering, dan kaus kaki khusus mendaki. Totalnya lumayan sih sekitar Rp 1,200,000. Tapi, semua barang-barang tersebut kualitasnya bagus dan sudah dipakai berkali-kali. Decathlon juara deh. Selain itu, saya memang sudah punya perlengkapan musim dingin lain yang dibutuhkan. Sisanya perintilan saya putuskan untuk beli di Nepal, karena bisa jadi malah lebih murah.

Untuk latihan fisik, saya lari 3 kali seminggu sekitar 5 km di GOR Soemantri Kuningan. Gratis dan dekat kost-an. Saya bela-belain bangun pagi dan lari sebelum ke kantor. Niat banget karena memang menjaga stamina penting banget sebelum mendaki gunung.

Tiba di Nepal

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Saya terbang dengan pesawat AirAsia. Mendarat di Kathmandu sekitar pukul 3 sore. Mengajukan Visa on Arrival di bandara, prosesnya sangat cepat dan lumayan efisien.

26864803_169194597189221_1985124272074391552_n
Pemandangan sebelum mendarat

Setelah itu saya naik bus odong-odong dari bandara ke area penginapan (Rp 3,000) lalu jalan kaki ke Hostel Himalaya. Dinginnya sih ga seberapa, mungkin sekitar 12 derajat. Tapi, masalahnya di malam hari suhu bisa turun sampai 0 derajat, dan di Nepal orang-orang nggak punya pemanas ruangan. Jadi, di dalam rumah rasanya jauh lebih dingin dari di luar ruangan. Saya bahkan pakai baju hangat lengkap pas mau tidur ditambah selimut tebal dua lapis. Hostel yang saya tempati biasa aja, tapi murah banget Cuma $3 per malam untuk tempat tidur di kamar asrama.

Hostelnya juga menyediakan jasa pemesanan tiket bus ke Pokhara. Saya beli tiket bus dari hostel untuk keberangkatan dua hari kemudian jam 7 pagi. Kebetulan ada satu tamu lain yang juga memesan tiket untuk bus yang sama. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam. Walaupun jaraknya hanya 210 kilometer, jalanan di Nepal berbatu dan berliku. Jadi nyetirnya harus pelan-pelan. Saya sempat agak mabuk kendaraan juga saking kencang guncangan sepanjang jalan. Sempat berhenti dua kali untuk istirahat.

Sekitar jam 3 sore, kami sampai di Pokhara dan jalan kaki ke penginapan. Kotanya cantik. Ada danau dan sepanjang jalan penuh toko-toko yang menjajakan peralatan mendaki dan perlengkapan musim dingin. Pokhara memang kota terdekat untuk memulai pendakian Annapurna.

Saya beli banyak perbekalan untuk pendakian, terutama makanan penambah energi seperti Snickers, energy bar, dan kacang-kacangan. Harganya terbilang lebih mahal dibanding di Indonesia, tapi karena butuh dan lebih baik beli di kota daripada di gunung, saya beli lumayan banyak. Pada akhirnya sisa banyak banget sih. Selain itu saya juga bawa obat-obatan untuk menghadapi mabuk ketinggian (altitude sickness) dan tablet pemurni air. Dengan tablet tersebut, namanya AquaTabs, saya tinggal isi air dari sungai, masukkan tablet dan tunggu 30 menit, air pun siap diteguk.

Selain itu, saya juga menyewa beberapa perlengkapan naik gunung seperti tongkat pendakian, crampon, dan sleeping bag yang tahan sampai -10 derajat. Saya juga mengunduh peta offline dan semua informasi mengenai jalur yang akan saya daki. Saya sudah menetapkan diri bahwa saya nggak akan sewa porter ataupun pemandu. Berdasarkan informasi yang berhasil saya dapatkan dari berbagai sumber, kalau trekking Annapurna aman banget kok sendirian. Apalagi treknya kan populer, jadi banyak orang sepanjang jalan dan rutenya juga jelas jadi ga bakal nyasar. Saya juga bawa kompas dan peta kertas untuk jaga-jaga.

Bodohnya, saya nggak tahu kalau saya harus membeli kartu izin pendakian dari agen wisata sebelum jam 3 sore, karena setelah itu saya hanya bisa beli besok paginya. Sebenarnya, kita nggak mesti ke agen wisata, bisa beli langsung di kantor pariwisata terdekat yang terletak sekitar beberapa kilometer dari pusat kota Pokhara. Tapi karena hari itu sudah kepalang sore, saya pun memutuskan untuk beli izin pendakiannya besok pagi-pagi. Katanya, kantor pariwisata buka pukul 09.00. Cuma perlu pas foto dan uang sekitar 4,000 rupe Nepal.

Besoknya, saya bangun pagi-pagi dan berkemas. Saya diantar oleh salah satu mas-mas dari agen travel ke kantor pariwisata. Kantornya udah buka, tapi sayangnya mereka ga terima pembayaran menggunakan kartu dan ATM yang ada di dekat situ nggak bisa saya pakai. Drama kan. Akhirnya saya keliling-keliling coba beberapa ATM dan berhasil juga tarik uang. Setelah itu, proses pembuatan izin cepat banget kok. Gak sampai 30 menit dan petugasnya juga ramah-ramah banget.

Mendaki

Izin sudah di tangan, tas sudah di punggung, saya pun diantar lagi sama mas-mas yang sama ke terminal bus. Saya ngotot mau naik bus aja ke Nayapul, nggak mau naik taksi. Bukan sekadar masalah uang, tapi masalah prinsip. Sampai di terminal Pokhara, saya langsung ditunjukin yang mana bus yang ke Nayapul. Langsung naik dan duduk manis. Nunggu 15 menit, nggak ada tanda-tanda bus bakal bergerak. Akhirnya saya turun lagi tanya sama keneknya kapan bus akan berangkat. Ternyata, walaupun busnya jenis kopaja gitu, mereka berangkat sesuai jadwal. Dan karena saya kesiangan, bus yang ini baru bakal berangkat 1,5 jam lagi. Buset. Saya langsung turun dan ambil taksi. Lumayan sih harganya kalau dibanding naik bus.

Jangan bayangkan taksinya seperti mobil-mobil Blue Bird di Jakarta. Taksi yang saya naiki berupa mobil super tua mungil, tapi yaampun luar biasa tahan banting. Bayangkan, jalan dari Pokhara ke Nayapul jauh lebih parah daripada jalan dari Kathmandu ke Pokhara. Seratus persen hancur. Jadi rasanya seperti off-road. Di beberapa tempat malah taksi saya melaju di atas batu-batu gitu, eh terus saya lihat ada air mengalir. Bingung. Ternyata, mobilnya ambil rute membelah sungai yang lagi kering karena musim dingin. Buset deh. Perjalan 40 kilometer aja hampir 2 jam jadinya.

Sekitar pukul 1 siang saya sampai juga di titik awal pendakian.

Oh iya, sekadar informasi, trekking yang akan saya lakukan itu total sekitar 50 kilometer. Saya buat perencanaan yang cukup matang dengan membaginya ke dalam 4 hari perjalanan. Mendaki Annapurna tidak seperti mendaki gunung-gunung lain pada umumnya, karena pada dasarnya di Himalaya mendaki gunung itu seperti berjalan dari desa ke desa. Di awal-awal, tiap dua atau tiga kilometer kita pasti ketemu desa. Jaraknya makin berjauhan seiring makin tinggi kita mendaki. Saya sudah ada target harian. Hari pertama, berhubung saya mulainya telat banget, saya ubah target dari Ulleri (1,960 mdpl) ke Tikhedunga saja (1,480). Nayapul ada di titik 1,070 mdpl. Perjalanan lumayan santai. Nggak terlalu mendaki tajam. Karena sudah siang, nggak banyak pendaki lain. Ada satu perempuan Prancis mendaki  sendirian juga, tadinya saya mau bareng, tapi dia jalannya ngebut banget, jadi saya biarin aja dia duluan. Tujuan mendaki ini saya ingin benar-benar menikmati perjalanan saya sendiri.

Sekitar 30 menit berjalan, tiba-tiba muncul seekor anjing putih yang berjalan beriringan dengan saya. Kadang saya berhenti sejenak untuk ambil foto, minum, atau isi air. Herannya, sang anjing selalu berhenti ketika saya berhenti, dan mulai berjalan lagi ketika saya bergerak. Perlahan saya sadar, dia memang benar-benar mau menemani saya mendaki. Saya sempat berpapasan dengan rombongan-rombongan lain dan mereka menggoda sang anjing, tapi ga mempan, doi acuh! Sang anjing pun dengan setia menemani saya sampai akhir perjalanan.

Sekitar pukul 4 sore saya sudah sampai di Tikhedunga. Yeay, hari pertama sukses! Baru sampai di mulut desa, seorang perempuan menyapa dari jauh dan menghampiri saya. Dia menawarkan penginapannya. Harganya benar-benar murah, tapi syaratnya saya harus makan di situ. Langsung saya sepakat dan dia pun menunjukkan kamar sangat amat sederhana yang akan saya tempati. Kamarnya seperti rumah temporer, terbuat dari papan tripleks dengan tempat tidur single bed dan meja kecil. Dia bilang nggak ada colokan listrik di kamar saya, jadi kalau mau mengisi baterai saya bisa taruh di ruang makan. Untuk lampu, sumber listriknya dari tenaga surya, jadi bisa menyala sepanjang hari.

Jadi, tiap penginapan biasa punya aturan masing-masing. Harga yang dibayar paling tidak sudah termasuk kamar dan air hangat untuk mandi. Tapi untuk listrik dan wifi, biasanya kita harus bayar ekstra.

Saya makan malam mie rebus pakai telur, hangat dan nikmat. Malamnya, saya ditawari makan malam lagi, nasi goreng, tapi porsinya besar banget, jadi nggak habis. Saya pun tidur cepat. Sunyi, yang terdengar hanya kesenyapan. Damai rasanya tidur meringkuk dalam sleeping bag yang hangat.

Tips: saya beli sleeping bag lining untuk melapisi tubuh saya sebelum menyentuh sleeping bag sewaan, yang entah pernah dicuci atau tidak, untuk menghindari gatal-gatal dan tidur tak nyenyak.

Esoknya saya bangun sekitar pukul 8 pagi dan sarapan. Sang anjing masih setia menanti. Dia tidur di desa yang sama. Manis banget ya.

Saya lalu melanjutkan perjalanan. Hari itu target lumayan berat, karena hari pertama saya hanya melakukan perjalanan pendek. Target saya adalah Ghorepani yang berada di ketinggian 2,874 mdpl. Hari itu saya mendaki cukup panjang. Saya tiba saat hari hampir gelap, sekitar 9 jam saya habiskan dalam perjalanan. Dari Ulleri, saya harus mendaki hampir 3,500 anak tangga. Lelahnya bukan main. Di beberapa titik saya benar-benar khawatir akan menyerah. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, saya langkahkan satu kaki di depan. Lalu kaki lain, bergantian. Akhirnya sampai di puncak dan tujuan dengan selamat.

Saya langsung ambil penginapan, ganti baju dan makan. Karena sedang low-season, tidak ada tamu selain saya. Saya pun makan dengan tenang, diiringi obrolan pemilik rumah yang berbincang seru di depan perapian, entah tentang apa.

Selesai makan, saya mandi dan langsung tidur. Besok saya harus bangun jam 3 pagi untuk mengejar matahari terbit di Poon Hill, puncak dari pendakian saya.

Tepat pukul 03.20 alarm di ponsel saya berbunyi dan saya langsung terbangun. Ganti baju, angkat ransel (saya bawa ransel kecil yang berisi hal-hal esensial, air dan snack), saya lantas memulai pendakian ke Bukit Poon. Kali ini kondisi pendakian lumayan menantang karena situasi gelap gulita dan tanjakannya curam. Saya mendaki tangga satu-persatu. Nggak separah seperi tangga Ulleri sih. Sekitar 1,5 jam kemudian, saya sampai di bukit Poon. Sudah ada puluhan orang lain di sana, bertujuan sama hendak melihat matahari terbit.

Akhirnya sang bintang yang ditunggu-tunggu pun perlahan menampakan ubun-ubunnya. Langit berubah warna menjadi kuning keemasan, menjadi latar belakang barisan pegunungan yang diselimuti salju. Angin meniup bendera-bendera doa yang terbentang di atas ilalang. Salah satu momen terindah yang membekas dalam di ingatan saya.

26159120_2016713141937042_1778638260415758336_n

Puas menikmati matahari terbit, saya turun gunung dan kembali ke penginapan. Setelah sarapan, saya kembali melanjutkan perjalanan. Target hari ini Tadapani. Karena Poon Hill adalah titik tertinggi dalam pendakian saya, mulai hari ini saya akan bergerak menuruni Annapurna.

Di perjalanan, saya bertemu dengan beberapa rekan pendaki yang benar-benar ramah dan saling membantu satu sama lain. Usianya beragam, mulai dari umur 7 tahun sampai kakek-nenek usia di atas 60-an. Beberapa terheran-heran saya berani melakukan pendakian sendirian, tanpa porter pula alias mencangklong ransel seberat lebih dari sepertiga bobot saya. Saya hanya tertawa-tawa menanggapi mereka.

Di beberapa tempat, jalurnya berubah menjadi es, jadi cukup licin. Saya berhasil menemukan air terjun yang membeku. Omg. Pertama kali seumur hidup saya lihat air terjun beku.

26864487_1824090270955257_7388143046828752896_n

Karena sudah hari ketiga, walaupun saya lebih terbiasa dengan pendakian saya, badan saya lebih cepat lelah. Saya pun berjalan lebih lambat. Sampai di Tadapani, saya langsung tepar, berbaring di kasur selama sekitar 15 menit sebelum bisa bergerak lagi untuk mandi dan makan. Serunya, di penginapan yang ini ada ruang makan bersama yang punya api unggun di dalam ruangan. Asyik, hangat. Selesai makan, saya kembali ke ruang makan dan membaca buku di ruang tersebut bersama tamu-tamu lain. Semua asyik terhanyut dalam narasi yang tercetak di buku masing-masing. Sesekali terdengar suara api melahap kayu. Setelah mata lelah, saya pun berangkat tidur.

26385168_308061789714824_1593078970100744192_n

Ini pemandangan yang saya saksian tepat saat bangun tidur. Ya, sedemikian indahnya.

Saat sarapan, saya berbincang dengan seorang mas-mas Jerman yang juga mendaki sendirian. Kami berbagi cerita dan ternyata dia juga sempat ditemani anjing dalam perjalanannya. Kabarnya, anjing-anjing hutan senang mendampingi para pendaki solo, unyu sekali. Kebetulan di desa-desa mereka juga biasanya diberi makan oleh warga.

26332812_173240379954878_8136195172900798464_n-1

Hari itu hari terakhir, perjalanan pendek sih, hanya tinggal ke Gandruk lalu ke Kimche. Dari situ, saya bisa naik bus kembali ke Pokhara. Sebagian besar perjalanan menurun, tapi di beberapa titik harus naik-turun juga. Saya berjalan santai dan tidak tergesa-gesa. Tiap berpapasan dengan orang lain, saya menyapa, “Namaste,” yang akan dijawab dengan kata yang sama.

Sampai di Ghandruk, banyak banget turis lokal yang berfoto-foto. Ternyata ini memang salah satu destinasi alam yang paling mudah di jangkau dari Pokhara karena ada bus tak jauh dari sini. Saya bertemu dengan empat orang remaja Nepal yang sangat ramah. Mereka nggak terlalu lancar berbahasa Inggris, tapi baik banget. Mereka pengen foto-foto sama saya, mengajari saya untuk menyantap batang tebu. Waduh, seru sih, tapi ngeri juga gigi saya rontok, soalnya lumayan keras.

Epilog

Tidak terasa kaki sudah melangkah sampai Kimche. Bus-bus sudah menunggu pendaki untuk membawa mereka kembali ke kota, termasuk saya salah satunya.

Setelah bus penuh, kendaraan raksasa tersebut pun bergerak perlahan. Saya melihat gunung yang saya daki dari kejauhan. Wow, saya berjalan di sana, menjejak tanah sentimeter demi sentimeter, dan berhasil. Mendaki sendirian hanya bersama badan dan pikiran saya. Rasanya seperti perjalanan spiritual. Air mata pun menitik dan hati saya penuh kebahagiaan yang meluap-luap. Saya berhasil!

Perjalanan tersebut merupakan perjalanan pertama saya mendaki pegunungan terkemuka di dunia. Beberapa bulan kemudian, saya kembali melakukan pendakian serupa di Patagonia, Amerika Selatan. Nanti saya ceritakan ya, lain kali!