Berlayar di Labuan Bajo bersama Bule yang Takut Laut: Live on Board

18809230_339502379799700_6464339287046356992_n

Saat host Couchsurfing saya dari Cologne, Jerman bilang bahwa ia akan datang ke Indonesia, kami sepakat untuk traveling bersama ke Flores. Meski hanya sempat ketemu sekali ketika saya berkunjung ke Cologne, saya membina hubungan yang cukup baik dengan Jo. Dia sudah pernah ke Indonesia sebelumnya, sailing trip di Raja Ampat bersama temannya. Jadi, saya pikir sailing Komodo akan menjadi hal seru yang sama-sama kami nikmati. Sayangnya, dugaan saya salah. Meski begitu, pengalaman berlayar ke pulau-pulau sekitar Labuan Bajo tetap menjadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup dan Flores masih menjadi pulau favorit saya sampai saat ini.

18812138_1489149344468451_199851021625720832_n

Setelah menghabiskan lebih dari seminggu menjelajahi Flores dari Ende dengan jalur darat, tibalah kami suatu sore di Labuan Bajo. Kami naik semacam mobil travel dari Ruteng ke Labuan Bajo dan diturunkan tidak jauh dari penginapan. Malam itu kami langsung mencari sarana transportasi untuk mengunjungi Pulau Komodo. Ternyata satu-satunya opsi selain menyewa kapal pribadi adalah membeli paket berlayar dari agen wisata. Kami menyusuri sepanjang Jalan Soekarno Hatta dan menyambangi kantor agen wisata satu-persatu. Kami membandingkan harga dan paket yang mereka tawarkan. Bersyukur saya tidak memesan paket di internet, karena harganya malah lebih murah kalau pesan on the spot. Apalagi kalau kita memesannya H-1. Mereka biasanya banting harga demi mengisi kapal di detik-detik terakhir. Setelah tawar-menawar, saya dapat harga Rp1,600,000 per orang. Tapi agennya berpesan, jangan bilang ke penumpang lain karena mereka membayar Rp 2,200,000 per orang. Wah, lumayan juga kan bedanya, hampir 30%! Harga tersebut termasuk makan dan peralatan snorkeling selama 3 hari 2 malam, tapi tidak termasuk tiket untuk Taman Nasional Komodo.

18888791_1940747562828088_1706841005820477440_n

Esok paginya, kami tiba di pelabuhan dan kapal kami sudah menanti. Jangan bayangkan kayak kapal Phinisi ya. Kapalnya benar-benar sederhana, open deck dari kayu dengan mesin motor. Tidak ada kamar, jadi kami akan tidur di dek kapal. Buat saya sih malah seru! Saya dan Jo berbagi tempat dengan dua wisatawan lain dari Medan. Beruntung, karena biasanya kapal semacam ini targetnya sekitar 10 orang.

 

Destinasi yang kami kunjungi antara lain Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pantai Merah, Pulau Kalong, Pulau Padar, Manta point, Gili Lawa, Pulau Kanawa dan Pulau Bidadari. Sejujurnya saya tidak ingat urutannya. Yang jelas, hari pertama kami bermalam di Pulau Kalong dan esoknya di Gili Lawa. Di Google Maps, area yang saya kunjungi hanya berupa petak-petak tak bernama. Pada dasarnya, pulau-pulau tersebut, kecuali Komodo dan Bidadari, tidak berpenghuni.

Hari pertama berjalan dengan apik. Kami keliling pulau Komodo dan Pulau Rinca. Saya bertemu dengan setidaknya 6 komodo dewasa dan 2 komodo bayi. Senangnya luar biasa! Mereka kayaknya lagi pada kenyang, jadi tidak ada aktivitas kejar-kejaran atau pemandangan berdarah-darah yang saya saksikan. Tiga komodo berjejejer seperti buaya darat raksasa yang sedang malas-malasan. Tapi yaampun, lihat matanya, benar-benar awas. Dan hati-hati saja, walaupun saat idle begitu mereka kelihatannya lelet dan tiak berbahaya, kenyataannya mereka bisa lari dengan kecepatan 20 km/jam. Kalau kena bisa beracunnnya, kita bisa lumpuh atau bahkan meninggal. Tapi tenang saja, tike masuk Taman Nasional Komodo sudah termasuk pemandu profesional yang bisa menangani mereka. Selama kita tidak jauh-jauh dari pemandu atau bertindak bodoh di dekat keturunan dinosaurus ini, semua aman.

18879285_294855747631782_3760052483905290240_n

Kami lalu berenang dan foto-foto di Pink beach (sejujurnya, pasirnya nggak pink-pink amat!). Sore menjelang, kapal kami pun bergegas menuju ke Pulau Kalong. Di perjalanan, kami menyaksikan matahari terbenam yang dilahap kedamaian laut. Tibalah kami di Pulau Kalong. Gerombolan kelelawar memenuhi langit yang menaungi kami, keluar sarang untuk memulai aktivitas mereka.

Kapal pun ditambat di pesisir Pulau Kalong. Kami bermalam di sini. Ombak sesekali menggoyang kapal.

Setelah kenyang menyantap nasi dan ikan bakar berbalut sambal lezat buatan kru kapal, matras digelar di dek. Malam larut dan kami pun tertidur dengan alunan debur ombak menghanyutkan saya ke alam mimpi.

Esok paginya, cipratan air asin mengguyur saya hingga kuyup dan saya pun terjaga. Jo sudah terbangun lebih dulu, duduk membelakangi kabin kemudi menghadap saya. Ombak di sekitar kami ternyata cukup besar, sampai kapal bergoyang-goyang lebih kencang dibanding semalam. Saya sih santai saja, begitu pula kru kapal dan dua penumpang lain. Hanya Jo yang menampakkan wajah khawatir dan tidak nyaman.

Setelah sarapan selesai, kami menuju ke Pulau Padar. Jo tidak mau makan karena ia sedang tidak enak hati. Saya mulai bingung, ada apa gerangan?

Kapal bergerak ke Pulau Padar dan ombaknya memang lumayan buas hari itu. Tapi, berhubung saya pernah berlayar dengan kapal kayu yang lebih kecil dan ombak yang lebih besar, saya tahu semua akan baik-baik saja. Jo mulai bertingkah aneh. Ternyata dia takut laut.

“Santai aja, cuaca bagus kok,” kata kru kapal.

Kami pun tiba di Pulau Padar. Saya segera berlari menaiki tangga dan mendaki bukit. Naik dan turun bukit agak repot juga karena saya cuma pakai sendal jepit, gara-gara sepatu saya basah terguyur air laut. Tapi untungnya saya berhasil. Dan perjuangan tidak sia-sia. Saya terkesima.

18808930_135545850340907_4379866262432382976_n

Tiga garis pantai terbentuk sempurna setengah lingkaran mengelilingi pegunungan hijau dengan latar belakang birunya langit. Dada saya berdegup cepat, girang bukan main. Saya menghela nafas dalam-dalam dan memandangi hamparan keindahan alam di hadapan saya lekat-lekat.

Kembali ke kapal, kru bertanya pada saya apa saya mau berenang di Manta point, mengingat ombak hari itu lebih besar dari biasanya. Tentu saja, saya bilang. Tidak mungkinsaya melewatkan kesempatan berenang bersama ikan Manta!

Di perjalanan, Jo benar-benar ketakutan dan gugup. Saya berusaha menenangkannya tapi tidak mempan. Ombak memang sungguh besar, tapi itu jadi keuntungan, karena dengan demikian ikan-ikan manta pun berenang ke permukaan. Ya, saya lihat satu! Dua! Tiga! Ya ampun, banyak banget di sekeliling kapal kami. Kru kapal bilang, kalau saya mau loncat ke laut dan berenang bersama mereka bisa, tapi pakai pelampung dan harus berpegangan pada tali kapal. Dua teman dari Medan tidak bisa berenang dan tidak terlalu percaya diri, saya meyakinkan Jo bahwa kita harus coba. Saya turun duluan, disusul Jo. Ia dengan repot berpegangan satu tangan pada tali kapal dan tangan lain menggenggam kamera anti-airnya. Saya tidak kepikiran bawa kamera, hanya mau berenang bersama Manta pokoknya!

Tidak sampai 10 detik, Jo panik dan minta naik kembali ke kapal. Saya jadi ikut khawatir dan saya pun naik ke kapal.

“Ada apa?” tanya saya.

“Susah banget pegangan sama tali kapal dan ambil foto sekaligus, saya di sini aja,” kata Jo.

“Yaudah nggak usah bawa kamera. Kalau pegangan talinya dua tangan ga susah kok,” kata saya.

“Nggak ah, saya pengen ambil foto ikannya,” ia bersikeras.

Saya mulai bingung, oke jadi dia jauh-jauh terbang dari Jerman ke sini cuma buat ambil foto? Dan dia memutuskan untuk nggak berenang karena nggak bisa sambil ambil foto? Hm, menarik.

Saya memutuskan tidak terlalu ambil pusing dan kembali ke laut. Biarin aja, saya jadi satu-satunya yang berenang sama manta.

Saya berpegangan erat-erat ke tali kapal dan kapal pun bergerak perlahan menggiring saya untuk berada lebih dekat dengan mereka. Pertama ada satu ikan manta besar berenang di depan saya. Beberapa detik kemudian, muncul satu di samping kanan saya, lalu saya lihat ke bawah ada dua ikan manta kecil berenang mengikuti gelombang. Oh my God! Saya dikelilingi keluarga manta! Mereka berenang dengan sangat elok dan bersahaja. Saya berteriak-teriak kegirangan. Tidak ada foto, tentu saja, tapi gambar tersebut masih tersimpan aman di memori saya. Mungkin bakal ada di sana seumur hidup saya.

Setelah puas, dan manta-manta tersebut hilang dari pandangan, saya pun bergegas kembali ke kapal.

“You really don’t have any idea what you just missed,” kata saya pada Jo dengan senyum lebar. Ia bilang tidak apa-apa, ia ambil gambar dari kejauhan, ikan manta tersebut terlihat sekelebat dari permukaan.

Kapal lalu berlayar ke Gili Lawa, dan kami akan bermalam di sana. Setelah jangkar ditambat, kru kapal bilang saya bisa berenang di sekitar pulau lalu mendaki bukit untuk melihat pemandangan matahari terbenam. Jo tidak mau turun dari kapal. Katanya dia di kapal saja, lebih aman. Hah? Oke.

Saya berenang, lalu kembali ke kapal dan berhasil meyakinkan Jo bahwa kita bisa mendaki bukit dan melihat matahari terbenam bersama para pengunjung lain. Di sekeliling kami, ada belasan kapal dengan berbagai ukuran dan tingkat kemewahan yang membawa puluhan pengunjung lain. Bermalam di Gili Lawa memang pilihan yang cukup populer ternyata.

Malamnya, sehabis makan malam, Jo tiba-tiba tanya apa saya bisa bantu terjemahkan percakapan dia dengan kru kapal. Saya bilang tentu saja.

“Saya mau pindah ke kapal lain,” kata Jo.

Saya langsung mengernyitkan dahi. “What?”

“Iya, kapal ini terlalu kecil dan tidak aman. Apalagi besok kita ke arah sini,” katanya sambil menunjukkan peta. “Saya perhatikan arah angin akan membuat perjalanan besok sangat buruk,”

Saya pun bingung. Saya bahkan tidak kepikiran, emang bisa ya pindah kapal di tengah-tengah perjalanan begini?

Kru kapal tidak kalah bingung. Mereka menjelaskan, biasa ada kemungkinan pindah kapal kalau kapal yang ditumpangi mengalami masalah. Tapi karena kapal kami baik-baik saja, proposal tersebut kedengaran sangat aneh.

Jo bilang ia ingin pindah ke kapal yang lebih besar dan lebih kokoh. Saya sampaikan bahwa ia bisa saja melakukan itu tapi kru kapal bilang biasanya ia akan diminta sekitar Rp 2,000,000 (karena kapal besar memang lebih mahal), itu pun kalau kru dan penumpang kapal tersebut mengizinkan.

Karena dia bilang tidak ada uang (?!), akhirnya dia mengurungkan niat.

Malam itu berlalu dengan penuh kegelisahan. Jo bangun dan bilang pada saya bahwa ia tidak bisa tidur. Saya tawarkan Antimo, karena bisa membantu tidur lelap, tapi dia bilang, “Kalau ada apa-apa dengan kapal ini, saya memilih untuk terjaga daripada tertidur.” Oke, baik. Tapi mengingat ada belasan kapal di sekeliling kami yang saling menambat jangkar, saya tidak mengerti latar belakang kekhawatiran teman saya yang malang ini.

Akhirnya pagi hari pun tiba. Ombak tenang. Jo pun terlihat lebih tenang. Jadwal kami hari itu adalah ke Pulau Kanawa dan Pulau Bidadari. Snorkeling day! Untungnya ketegangan sudah mencair dan hari itu berjalan dengan baik. Saya menyapa dan tertawa bersama ikan-ikan dan tak henti-henti mengagumi keindahan terumbu karang, yang bahkan kita bisa lihat dari permukaan. Airnya bening, biru, hangat.

Puas berenang, kapal kembali ke Labuan Bajo. Sailing trip selesai, tapi petualangan belum berakhir. Malam itu akhirnya kami tidur di kasur yang nyaman di Plataran Komodo. Jo tidak lagi ketakutan atau marah-marah, tapi dari drama yang terjadi, saya kapok traveling bersama Jo.

18812043_630980657111967_7643436985234751488_n

Tapi, dari pengalaman ini saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah bahwa banyak hal yang akan kita lewatkan kalau kita terus mengikuti rasa takut. Bahwa tiap orang memiliki kapasitas dan keberanian yang berbeda-beda, dan kunci sukses traveling bersama adalah memiliki gaya dan motivasi yang senada. Dan bahwa memang benar omongan yang bilang bahwa traveling bersama bisa jadi perekat atau perenggang hubungan pertemanan.

Semua berjalan dengan lancar, asal kita tahu bagaimana menghadapi krisis yang muncul dalam perjalanan tersebut. Yuk, tantang rasa takut kita dan buktikan bahwa kita lebih kuat dari itu.