Taj Mahal, Naik kereta dari Delhi ke Agra

27575634_584289458571462_3883372625744887808_n

Gara-gara penyakit impulsive-buying, saya tiba-tiba punya tiket New Delhi-Jakarta untuk pertengahan Januari.

Setelah menyelesaikan petualangan di Nepal, mendaki Annapurna sendirian, saya terbang dari Kathmandu ke New Delhi dengan Air India. Awalnya saya mau ke India dengan jalur darat. Namun karena keterbatasan waktu dan rute perjalanan yang sangat-amat rumit, saya pun memutuskan terbang aja.

Saya hanya mengunjungi India selama tiga hari. Tujuan utama saya adalah New Delhi dan Agra, rumah dari salah satu keajaiban dunia Taj Mahal.

Saya cari-cari informasi di internet, kita bisa naik bus atau kereta dari New Delhi ke Agra. Sayangnya, saya mencoba segala cara untuk membeli tiket online tapi ribetnya setengah mati.

Pertama, saya coba membeli tiket di situs resmi kereta api India. Ternyata, kita harus punya akun untuk membeli tiket. Bagi orang asing, kita harus bayar sekitar 2 dolar untuk biaya pembuatan akun. Harganya nggak mahal, jadi saya bikin akun lalu langsung bayar. Pembayaran sudah sukses, tapi saya nggak kunjung mendapat kode untuk aktivasi akun. Saya kirim email ke pihak situs tersebut, lebih dari tujuh kali, tidak berbalas. Saya coba kontak dengan formulir kontak di situs mereka, tidak berbalas juga. Jadi, ya… uang lenyap sia-sia dan saya belum punya kendaraan untuk pergi ke Agra.

Saya pun melimpahkan kebingungan saya di situs Couchsurfing dan TripAdvisor. Ternyata bahkan ada jasa pembelian tiket kereta dengan biaya ekstra. Tapi masalahnya, sistemnya tidak jelas, karena kita hanya kirim email dan uang. Tidak ada jaminan juga kalau sudah kirim uang tiketnya akan benar-benar dibelikan, meski sudah ada rekomendasi dari orang-orang di TripAdvisor.

Beruntungnya, di situs Couchsurfing banyak teman-teman di komunitas India yang menawarkan saya untuk menggunakan akun IRCRC mereka. Agak ragu awalnya, tapi karena saya anaknya menyukai risiko, saya pun berkomunikasi dengan salah satu teman baru dari Couchsurfing yang berbasis di New Delhi. Ia memberi saya akun dan passwordnya, dan saya pun bisa log-in. Saya lalu log-in dan berhasil. Saya melakukan proses pembelian. Eh saat proses pembayaran, ternyata situs tersebut tidak menerima kartu kredit internasional. Lah, lalu bagaimana orang asing yang hendak membeli tiket? Ribet kan. Untungnya, Ashish lalu menawarkan diri untuk membelikan saya tiket kereta dan saya bisa mengganti uangnya saat kami bertemu di New Delhi. Baik banget kan! Dia juga menyarankan saya untuk kembali dari Agra ke Delhi dengan bus saja, karena di musim dingin kereta sering gangguan. Biasanya kereta terlambat karena kabut terlalu tebal dan jalur relnya nggak kelihatan. Saya manut, dan ia pun membelikan saya tiket bus, karena lagi-lagi di situs online untuk pembelian bus saya harus punya nomor ponsel India untuk membuat akun. Weleh-weleh.

Akhirnya tiket pun sudah di tangan. Selesai berpetualang di Delhi, saya ke Agra dan perjalanan lumayan lancar. Tapi eits, hati-hati ya di kereta. Biasanya ketika kita masuk kereta, tempat duduk kita sudah didudukin orang. Ini kasusnya bukan sesekali, tapi terjadi dengan semua traveler yang pernah ke India. Saat saya masuk kereta, tempat saya sudah diduduki seorang ibu dengan dua anaknya. Saya dengan sopan bilang kalau itu tempat duduk saya. Dia minta saya tukar tempat. Saya nggak mau. Eh dia jadi judes banget ngambek gitu. Ya gimana, kalau ada apa-apa saat pemeriksaan kan saya juga yang repot.

Perjalanan lumayan lancar. Tapi memang benar, kabut cukup tebal. Kereta pun harus berjalan pelan-pelan. Jadwal yang tadinya dua jam perjalanan pun molor menjadi empat jam. Untung Delhi pemberhentian pertama, jadi saya nggak kena imbas keterlambatan. Seorang teman yang hendak berangkat ke Darjeeling dari Varanashi bilang kalau keretanya terlambat 36 jam. Dan orang-orang lokal sudah terbiasa. Buset. Teman saya sampai membatalkan perjalanannya dan langsung terbang ke Nepal gara-gara itu.

Tapi untungnya, saya berhasil sampai dengan selamat di Agra. Hore!

Kunjungan ke Taj Mahal

Sesampainya di Agra, saya turun kereta dan celingukan mencari arah penginapan. Penginapan saya terletak di dekat Taj Mahal, jadi lumayan mungkin sekitar lima kilometer. Saya keluar stasiun dan langsung diserbu abang-abang tuk-tuk yang kompetitifnya melebihi tukang ojek di Pasar Minggu. Dalam hati saya agak panik, tapi pura-pura tenang. Satu tuk-tuk mengikuti saya sekitar 20 menit, membujuk saya untuk naik tuk-tuknya. Saya didesak gitu malah jadi enggan. Tapi karena dalam hati takut juga, saya bergabung dengan satu pasangan dari Polandia yang juga berjalan kaki ke arah yang sama. Kami berjalan bersama-sama dan abang tuk-tuk tersebut masih ngikutin juga. Dia menurunkan harga dari 200 jadi 10 rupe. Gimana saya nggak curiga. Setelah mengungkapkan berkali-kali bahwa kami nggak punya uang, ia pun menyerah.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Lumayan intens juga bagi saya, karena klakson nyaring bersahut-sahutan tanpa henti. Kami juga sempat melewati benteng dan sebagainya. Sesampainya di area Taj Mahal, kami berpisah karena mereka langsung ke sana sementara saya berencana ke penginapan lebih dulu.

Saya pun ke penginapan yang terletak sekitar satu kilometer dari Taj. Agak bingung, tapi akhirnya ketemu juga. Harga kamarnya nggak mahal. Saya menginap di kamar asrama. Kebetulan sedang low-season, jadi di kamar berkapasitas empat orang hanya ada saya dan seorang perempuan dari Irlandia. Kami makan malam bersama dan dia berbagi tips untuk kunjungan saya ke Taj Mahal.

Harga tiket untuk turis 40 kali lebih mahal daripada lokal. Sebagai orang asing, kita harus membayar 1,000 rupee. Tapi, perlakuannya pun berbeda. Lokal harus mengantri mungkin satu jam sampai bisa masuk ke bangunan utama. Sementara kami, para turis yang dianggap VIP, bisa dengan cepat memotong antrian. Kami juga diberi plastik sebagai alas kaki, karena kita harus buka sepatu saat memasuki istana tersebut.

Memasuki bangunan pertama, dari kejauhan saya melihat ribuan orang memenuhi area terbuka. Oh, ini dia istana  yang dibangun oleh raja sebagai bukti cinta pada istri simpanannya. Cantik sih, tapi kisahnya pedih juga. Ck.

Saya berjalan menyusuri taman. Sayangnya, menurut saya Taj Mahal warnanya sudah tidak lagi putih, tapi agak kekuningan. Mungkin karena polusi dan debu. Kabarnya, pemerintah India memang berencana melakukan perbaikan. Mudah-mudahan segera terlaksana.

Memasuki bangunan utama, sejujurnya nggak menarik-menarik amat. Mungkin karena saya nggak sewa pemandu, jadi nggak terlalu ngerti. Kita berjalan memutari bangunan dengan rute yang sudah disediakan. Tidak ada kesempatan untuk berbalik arah. Benda-benda penting pun diberi pagar sehingga kita hanya bisa melihat dari jarak tertentu.

Keluar di pintu lain, terbentang sungai yang memisahkan daratan yang saya pijak dengan pemukiman seberang. Ada juga bangunan-bangunan lain yang sama cantiknya dari luar. Ukirannya benar-benar rapi dan mendetail. Nggak rugi deh ke sini, walaupun ramai banget ternyata.

Oh iya, peraturannya kita nggak boleh bawa tripod. Saya kebetulan bawa gorillapod dan disita di gerbang masuk area Taj Mahal. Saya pun sempat berdebat karena saya bilang saya titipkan saja di tempat pemeriksaan, tapi saya dipaksa kembali ke loket utama untuk menitipkannya secara resmi. Masalahnya saya sudah mengantre hampir satu jam untuk masuk. Setelah negosiasi, akhirnya pihak penjaga bilang nanti ketika kembali saya nggak perlu ikut antre, bisa memotong antrean. Fiuh. Jadi jangan bawa tripod ya guys!

Pakaian juga kalau bisa tertutup. Harus menutup lengan dan lutut. Kebanyakan orang India sih pakai sari. Cantik, tapi kayaknya ribet. Sama aja kayak pakai kebaya kali ya.

Sekian cerita saya dari Agra. Kalau mau tahu kegiatan saya saat di Delhi, tunggu tulisan saya berikutnya ya!