Karimun Jawa Murah Meriah: 101

20766374_226860861173585_8244398163729842176_n

Kali ini perjalanan berawal saat teman saya dari Yunani, Vaso, datang ke Indonesia untuk liburan. Berhubung saya masih kerja penuh waktu di Jakarta, saat itu saya bilang saya hanya bisa menyisihkan waktu satu minggu untuk liburan bersama dia. Kami pun sepakat untuk mengunjungi Karimun Jawa. Saya belum pernah ke sana sebelumnya. Padahal lokasinya lumayan dekat, masih di pulau Jawa, dan biaya untuk liburan ke sana cukup terjangkau.

Banyak tawaran open-trip ke Karimun Jawa di internet. Namun, sebagai petualang sejati, kami memutuskan untuk ke sana secara mandiri. Saya pun melakukan riset kecil-kecilan dan berhasil mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan.

Saya naik kereta dari Jakarta ke Semarang, lalu menyambung bus dari Semarang ke Jepara. Busnya non-AC. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dengan tiket Rp 20,000. Sesampainya di Jepara, saya diturunkan di persimpangan jalan. Ada sederet becak menunggu dan langsung gesit menawarkan jasa mengantar saya ke pelabuhan. Saya baca di internet jarak dari persimpangan tersebut ke pelabuhan hanya sekitar 15 menit jalan kaki. Tapi karena panas terik, dan saya pikir nggak ada salahnya bagi-bagi rejeki, saya tanya berapa harga becak. Lima puluh ribu, kata bapak tukang becak. Yang bener aja. Saya pun dengan sopan menolak jasa mereka dan berjalan kaki ke pelabuhan. Nggak jauh kok dan jalannya Cuma lurus-lurus aja.

Sesampainya di pelabuhan, saya lihat rambut panjang Vaso dari belakang. Saya langsung berlari ke arahnya dan kami pun berpelukan. Sudah dua tahun saya tidak bertemu dengan Vaso. Kami bertemu di Athena. Kala itu saya berkunjung dan ia menawarkan diri untuk menemani saya keliling-keliling Athena. Entah bagaimana, kami sangat klop sejak detik pertama bertemu. Makanya, kami masih berteman sampai sekarang.

20759398_910258702475306_3677529519150858240_n

Di sekitar pelabuhan, banyak backpacker tidur-tiduran menunggu kapal. Saya pun membeli tiket untuk keberangkatan selanjutnya. Harganya murah. Lama perjalanan sekitar dua jam. Kapal feri yang kami tumpangi berkapasitas cukup besar. Namun karena kami ingin menikmati sinar matahari dan debur ombak, kami memutuskan duduk-duduk di dek. Bertukar cerita tentang kehidupan, karir dan percintaan, kami bahkan sempat ketiduran saking nyamannya perjalanan.

Sesampainya di pelabuhan Karimun Jawa, kami langsung menuju ke penginapan. Saya sudah memesan penginapan di situs online. Jaraknya tidak jauh, mungkin sekitar 15 menit perjalanan. Akomodasi di seluruh pulau terbilang sederhana. Lebih seperti wisma daripada hotel. Rumah yang kami tempati sangat nyaman, dengan hammock tergantung di antar dua pohon yang berdiri tegak di halaman rumah. Sayangnya kamar kami tidak ber-AC dan udara sangat gerah dan lembab. Kami hanya menaruh tas lalu cari makan di dekat penginapan. Indomie goreng dengan telur dan sayur. Saya dan Vaso sama-sama tidak makan daging-dagingan.

Hari itu kami hanya bersantai-santai jalan kaki keliling pulau. Pulaunya kecil dan orang-orang sangat ramah. Saya rasa semua penduduk sudah sangat terbiasa dengan kehadiran wisatawan. Menjelang matahari terbenam, kami menanjak ke viewpoint dan menikmati detik-detik bergantinya terang menjadi gelap. Dari ketinggian, kami memandang kehidupan di pulau Karimun Jawa. Ada beberapa wisatawan domestik di tempat yang sama. Mereka senang melatih bahasa Inggris dan tentu saja, minta berfoto dengan bule cantik. Ckck.

Malamnya, kami makan malam di alun-alun yang bertransformasi menjadi deretan warung tenda. Kami makan seafood. Segar, murah, dan lezat banget. Harga satu ekor ikan bakar misalnya, hanya Rp 5,000. Duduk di lesehan, kami benar-benar menikmati suasana yang ramai dan hangat.

Esok harinya, kami memutuskan untuk menyewa motor untuk menjangkau titik-titik pulau yang agak jauh. Sewa motor sehari hanya Rp 30,000. Saya sih nggak berani bawa motor, haha payah. Tapi Vaso dengan lincah ngebut di jalanan yang cukup berbukit-bukit. Udara sejuk menerpa wajah kami. Maklum, saat sewa motor kami nggak dipinjamkan helm.

Malamnya kami makan seafood, lagi. Kami juga sempat belanja kain pantai yang harganya jauh lebih murah dibanding kalau beli di Bali. Motifnya juga unik-unik. Setelah itu kami memutuskan pergi ke pantai. Gelap-gelapan, kami menuruni bukit menuju pantai. Nggak ada lampu atau petunjuk sama sekali, kami hanya mengandalkan peta dan penerangan dari ponsel masing-masing. Sesampainya di tepi pantai, kami menemukan dua kursi selonjor dari kayu. Duduk, kami pun mendongak ke atas. Wow. Langit dipenuhi bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Karena sekitar kami benar-benar gelap, cahaya bintang pun jadi lebih terang. Di bawah kerlap-kerlip bintang, kami berbagi cerita seperti layaknya teman lama.

Kami mendaftarkan diri untuk ikut island-hopping dengan kapal. Harganya kalau tidak salah Rp 100,000. Pagi-pagi, kami pergi ke pelabuhan dan naik kapal yang sudah ramai dengan peserta lain. Kira-kira ada 10 orang, dan kalau tidak salah saya satu-satunya lokal, entah bagaimana.

20766917_111194446231050_5484888054076276736_n

Hari itu penuh dengan kegiatan berenang di tengah laut. Kapal berjalan ke titik snorkeling, kami loncat ke laut, puas berenang kembali ke kapal, kapal berangkat lagi ke titik lain, dan seterusnya. Ada dua hal yang paling mengesankan saya. Satu keluarga dari Belanda membawa anaknya yang baru berusia 3 tahun. Balita tersebut sudah bisas snorkeling di tengah laut. Satu keluarga Jerman dengan dua anak remaja malah snorkeling bebas tanpa pelampung dan berenang cukup dalam, mendekatkan diri ke terumbu karang yang cantik bukan main, meliuk gemulai layaknya ikan profesional. Luar biasa. Saya aja nggak berani.

20837284_123700914936054_41673543687077888_n

Hari selanjutnya, kami memutuskan untuk melakukan kegiatan mendayung. Pihak penginapan membantu kami menyewa kayak dan perlengkapannya. Ternyata, ada satu mini-resor di pulau tersebut yang memiliki fasilitas lengkap untuk aktivitas air. Mereka juga punya restoran yang tepat berada di ujung gugusan pantai. Kami mendayung ke pantai-pantai tak jauh dari titik keberangkatan. Kayak yang kami sewa bisa memuat dua orang, jadi kami harus berkoordinasi saat mendayung. Itu pertama kalinya saya mendayung. Kami nggak pergi ke lepas pantai, melainkan hanya bergerak di antara dua gugusan pantai, jadi airnya tenang seperti di sungai. Hanya ada arus-arus kecil. Kami juga pakai pelampung untuk jaga-jaga. Serunya, kami menemukan pantai kosong tempat penangkaran penyu. Tapi karena bukan musim bertelur, areanya benar-benar kosong. Jadi rasanya kami berada di pantai pribadi. Yuhuu.

20759791_710703802470879_610307121820467200_n

Vaso pun dengan asyik mengapung di pantai, kami makan bekal dan menikmati pemandangan laut bebas.

Kembali ke mini-resor, kami memutuskan untuk makan siang di sana. Harganya lumayan mahal dibanding harga makanan di pulau tersebut, tapi ya kualitasnya lumayanlah. Kami harus membeli semacam paket untuk menikmati area tersebut selama setengah hari, karena pantainya memang sudah dibeli oleh pemilik resor.

20837688_503791856640512_1194101251608936448_n

Itu hari terakhir kami di pulau. Esoknya kami naik kapal untuk kembali ke pulau Jawa. Kami pulang dengan rute yang sama. Saya dan Vaso sama-sama ke Semarang. Di bus, kenek sempat mengira saya turis asing dan minta saya bayar Rp 40,000 per orang. Saya langsung komplain dan dia sadar kalau saya orang lokal. Nggak jadi deh naikini harga. Aneh banget kenapa harus bedain harga kalaupun saya orang asing. Kenek nakal.

Sesampainya di Semarang, saya naik kereta kembali ke Jakarta sedangkan Vaso ke Yogyakarta. Kami pun berpisah, membangun rencana untuk bertemu lagi di lain waktu lain benua.

20838142_111686209496764_5670116790823288832_n

Sejauh ini, pengalaman traveling di Karimun Jawa adalah wisata yang paling oke untuk titik harga yang rendah. Saya lebih menikmati island-hopping di Karimun Jawa daripada beach-hopping di Nusa Dua. Jadi, bagi kalian yang belum pernah ke Karimun Jawa, coba deh. Nggak perlu ribet ikut open-trip (biasanya open-trip dilakukan tergantung jadwal). Kalau kalian berangkat sendiri, tentu bisa berangkat kapan saja, hanya tergantung jadwal keberangkatan kapal. Selain itu, kalian juga bisa menghemat jauh lebih banyak.

Selamat snorkeling murah-meriah!